INTERNASIONAL

[internasional][bleft]

NASIONAL

[nasional][bleft]

ACEH

[aceh][bleft]

TEKNOLOGI

[teknologi][threecolumns]

EKONOMI

[ekonomi][bleft]

SPORT

[sport][threecolumns]

Tim Polda Buru Din Minimi

BANDA ACEH - Kapolda Aceh, Irjen Pol Husein Hamidi menegaskan sudah mengerahkan tim untuk membantu Polres Aceh Timur memburu kelompok bersenjata api (senpi) di bawah pimpinan Nurdin bin Ismail Amat Alias Din Minimi. Kelompok ini kerap melakukan tindakan kekerasan menggunakan senpi, bahkan sudah mengakui secara terbuka melalui media massa.

“Sebagian personel yang tergabung dalam tim Polda Aceh sudah ke Aceh Timur untuk memback-up kekuatan Polres setempat guna memburu kelompok bersenpi itu. Jika anggota kelompok ini menyerahkan diri, maka kita perlakukan dengan baik, tapi apabila tetap melawan, maka kita lumpuhkan,” tegas Kapolda kepada Serambi seusai memimpin sertijab tujuh Kapolres di Mapolda Aceh, Banda Aceh, Selasa (14/10).

Kapolda mengatakan sama sekali tak mengaitkan kelompok ini dengan persoalan politik, seperti pengakuan Din Minimi yang mengaku kecewa terhadap Pemerintahan Aceh di bawah pimpinan Gubernur Zaini Abdullah dan Wagub Muzakir Manaf yang mereka klaim tak memperhatikan mantan kombatan GAM.

Kapolda menegaskan sejak awal pihak Polres Aceh Timur fokus memburu kelompok Din Minimi karena sejumlah kasus kekerasan bersenjata yang dilaporkan warga, termasuk salah satunya pemerasan dengan ancaman mempergunakan senpi terhadap Razali Yakob di Kecamatan Julok, Aceh Timur, Juli 2013.

“Kelompok bersenjata di Aceh Timur ini sudah sangat meresahkan masyarakat, baik yang membakar alat berat beberapa hari lalu di kawasan Peureulak dan menembak truk pengangkut barang beberapa waktu lalu lalu,” ujar Kapolda didampingi Kabid Humas, Kombes Pol Gustav Leo. 

Ditanya tentang pria mengaku bernama Raja Rimba yang menghubungi Pengawas Lapangan, Samsuar usai membakar alat berat beberapa hari lalu di kawasan Peureulak dan selanjutnya meminta uang Rp 200 juta, apakah termasuk kelompok Din Minimi, menurut Kapolda Aceh, pihaknya tak peduli apakah mereka satu kelompok atau tidak. Faktanya, kata Kapolda Aceh, ada beberapa kelompok bersenpi mengaku mantan GAM di Aceh Timur yang kini fokus diburu polisi, termasuk Din Minimi yang juga terlibat menculik pekerja asing di PT Medco E&P Malaka, Aceh Timur, Malcom Campbel Primrose (62) pada Juli 2013, namun dua hari kemudian Malcom dilepas di suatu tempat tanpa uang tebusan. “Kita minta semua pihak ikut membantu polisi memberitahukan setiap kelompok yang telah meresahkan ini,” harap Kapolda.

Kelompok bersenjata api yang melancarkan aksi tak ubahnya preman dilaporkan meneror dan memintai uang dari rekanan yang mengerjakan proyek jalan lintas tengah Aceh. Pimpinan Sementara DPRA menilai gangguan sudah sangat serius karena bisa menghambat jalannya pembangunan infrastruktur di Aceh.

“Gangguan itu sudah sangat serius. Kami minta Polda Aceh bersama pihak TNI bekerja sama untuk memburu dan membasmi tuntas preman bersenjata tersebut,” kata Ketua Sementara DPRA, Tgk Muharuddin kepada Serambi, Selasa (14/10).

Menurut Muharuddin, permintaan tersebut disampaikan kepada pihak keamanan (TNI/Polri) didasari laporan dari para kontraktor yang sedang mengerjakan jalan lintas tengah Aceh saat ini. Menurut laporan yang disampaikan ke DPRA, pekerja ketakutan akibat pembakaran dua unit alat berat (compac) milik PT Agra Wisesa Widyatama di pinggir jalan Lokop-Peureulak, Desa Seumamah Jaya, Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur, menjelang subuh, Minggu (12/10) yang dilakukan kelompok bersenjata.

Laporan yang diterima DPRA dari pihak PT Agra Wisesa Widyatama yang mengerjakan paket proyek jalan Peureulak-Lokop, harga alat berat yang dibakar mencapai lebih Rp 1 miliar/unit, sedangkan yang dibakar sebanyak dua unit. Tiga unit lagi alat berat juga disobek bannya dengan senjata tajam. Pembakaran dan pengrusakan alat berat itu juga menghentikan pekerjaan di lapangan. “Tolong berikan rasa aman kepada buruh dan operator alat berat yang sedang bekerja di lintas tengah Aceh,” harap Muharuddin.

Kepala Dinas Bina Marga Aceh, Ir Anwar Ishak juga mengaku mendapatkan laporan sebagaimana diterima Pimpinan Sementara DPRA. Menurut Anwar, akibat pembakaran dua unit alat berat milik PT Agra Wisesa Widyatama itu, progres realisasi fisik proyek jadi terlambat.

Menurut Kabid Pembangunanan Jalan dan Jembatan Dinas Bina Marga Aceh, Yulian, dua unit alat berat compac milik PT Agrawisesa Widyatama yang telah dibakar kelompok bersenjata akan ditarik ke Medan untuk diganti yang lain. Begitu juga tiga unit lagi alat berat yang bannya sudah disobek dengan senjata tajam juga akan diganti secepatnya. (Aceh Tribun)
Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :