Sanger Day, Wacana Dari Dunia Maya yang Lahir di Dunia Nyata
Siang itu puluhan anak muda yang
mengenakan seragam hitam tampak sedang berkonsentrasi dengan
pekerjaannya masing-masing. Bertempat disalah satu warung kopi di Banda
Aceh, anak-anak muda tersebut sedang menyiapkan satu agenda acara yang
sudah ditunggu-tunggu banyak orang.
Mereka
adalah sebuah komunitas yang bergerak dibidang sosial media. Mendengar
kata sosial media, Anda jangan mengira mereka lebih “aktif” di dunia
maya saja, sebab mereka punya slogan “social media to social movement”.
Banyak sudah gerakan-gerakan sosial yang awal mulanya terwacana di
media sosial Twitter, mampu diwujudkan oleh komunitas ini dikehidupan
nyata.
Komunitas ini bernama @iloveaceh. Mereka tergerak melakukan gerakan sosial untuk mem-boom-ingkan Sanger,
salah satu minuman yang kian populer di Aceh. Pertama sekali wacana ini
muncul dari followers @iloveaceh yang akrab disapa #ATwitLovers tahun
lalu, followers tersebut ngetweet tentang perlunya mengenalkan Sanger kepada dunia (baca Everyday is #SangerDay).
Layaknya capuccino
milik negara Italy, Sanger yang terbuat dari campuran kopi, gula, dan
susu ini pun diharapkan mampu menjadi minuman seperti capuccino yang
telah mendunia tersebut. Berangkat dari kicauan followers itulah,
@iloveaceh memberanikan diri menjadi “corong” untuk memperkenalkan
Sanger ke mata dunia. Kegiatan yang bertemakan “Everyday is Sanger Day”
tersebut berlangsung pada, Minggu (12/10/2014) di Solong Mini
Lampineung, Banda Aceh.
“Hari Sanger
ini memang awalnya kita gerakkan di sosial media Twitter @iloveaceh
lewat tagar #SangerDay. Tujuannya untuk menjadikan #SangerDay sebagai
peringatan rutin tahunan di Aceh dan memperkenalkan kopi Sanger sebagai
salah satu minuman khas asal Aceh. ternyata antusias dari followers
sangat luar biasa,” sebut Antonio Gayo selaku ketua panitia.
Acara ini dihadiri oleh para penikmat
kopi Sanger, turut pula hadir disana perwakilan dari lintas komunitas
yang ada di Banda Aceh. Tidak hanya penikmat Sanger dari kalangan anak
muda saja, tampak juga hadir disana General Manager Hermes Hotel, Octowandi, Putri Kopi Indonesia perwakilan Aceh, Cut Rita Kemala, sejumlah seniman Banda Aceh dan beberapa wartawan senior Aceh serta wartawan asing asal Berlin, Jerman.
Kegiatan yang diisi dengan diskusi santai sambil nyanger ini
juga dihibur oleh beberapa penampilan musik akustik dan puisi yang
terlihat sangat menarik, terlebih lagi ada talenta-talenta muda Aceh
yang tampil segar didepan penikmat Sanger.
Diskusi yang berlangsung santai sambil menikmati segelas Sanger dan juga timphan asoe kaya ini, berbicara tentang bagaimana mewujudkan kopi Sanger menjadi ikon untuk daya tarik pariwisata di Aceh.
“Sangat
baik sekali acara ini, bisa merangkul suatu ide yang awalnya dari media
sosial. Ini bisa membantu daya tarik pariwisata di provinsi kita. Akan
lebih baik lagi apabila Sanger ini dipatenkan menjadi minuman khas dari
Aceh. Namun tentu itu semua perlu peran pemerintah juga,” sebut
Octowandi.
Sementara itu, sejak diluncurkannya tagar #SangerDay, respon dari netizen tentang perbincangan #SangerDay di Twitter sampai menembus angka 2700 kicauan (tweet). Hingga menjadikan #SangerDay trending topic (TT) untuk wilayah Aceh serta juga berhasil menduduki tangga TT untuk Sumatera beberapa saat.
Ribuan
orang pengguna akun sosial media twitter dan Instagram di Aceh turut
berkicau di hari #SangerDay. Tak hanya di Aceh, di Jakarta, Semarang,
Jogyakarta, Balikpapan, hingga merambah ke sejumlah followers @iloveaceh
yang ada di Turki, juga ikut saling berbagi tweet tentang #SangerDay.
“Kami tak menyangka acara yang sederhana begini mendapat respon positif dari followers,” cetus Anton.
Sebelumnya,
dalam menyambut hari #SangerDay, pengelola @iloveaceh juga telah
mengadakan lomba foto yang ditujukan kepada seluruh followers di akun
Twitter dan Instagram-nya. Tak ayal, banyak dari followers yang semakin
tertarik untuk berkicau tentang #SangerDay di akun sosial media.
Dari
kegiatan yang sederhana ini, ada harapan besar yang terus ingin
digerakkan oleh @iloveaceh dengan para followersnya. Keinginan itu tentu
saja menjadikan Sanger sebanding dengan capuccino milik Italy
yang telah lebih dulu mendunia. Terutama dengan cara memperingati hari
Sanger di setiap tahunnya, dan memanfaatkan sosial media sebagai wadah
“pemantik” untuk menarik wisatawan lokal maupun mancanegara berkunjung
ke Aceh, tentu saja untuk menikmati suguhan Sangernya.
Penulis : Alfath Asmunda (@Alfaaaath) (IloveAceh.Org)



Post A Comment
No comments :